Cara Menemukan Matahari (1)

Kemarin dia menemui ku. Ketika langit menguapkan awan. Ketika lalu lintas dipenuhi kendaraan kecil sampai yang besar, ketika asap coklat mengepul mengelilinginya.

Saat itu aku tertegun. Dia tak bicara sepatahpun. Melalui tatapan matanya aku pun tak dapat mengeluarkan suara.

Sebelumnya aku memiliki bayangan yang selalu kuikuti. Tak banyak ingin yang kupelihara. Hanya sebagai pengikut dari keinginan bayangannya.

Saat itu aku menatap langit dan wajahnya bergantian. Mereka sama tapi berbeda. Dia dipenuhi awan yang membentuk siluet. Tugasku adalah menerkanya. Lalu, merasakannya.

Advertisements

Bagaimana Aku

Mataku hampa sembari pikiranku menyelami alam khayal

Aku seolah lupa akan sesuatu penting yang harusnya kuselesaikan

Mencoba menata rapi-rapi

Memperkuat persoalan yang masih belum tuntas kupikirkan

Seandainya tujuanku tak pergi meninggalkan, aku tak perlu susah seperti ini

Seperti sehelai kertas yang sudah terpisah dari buku

Harusnya ia bernilai untuk lain hal

Namun, ia tak kembali ke asalnya

Diluar pun terserak, terbengkalai, terbang, hilang

Begitulah aku

Satu Cerita di Negeri Sakura

Dia tampak antusias bercerita dan sesekali mendengarkan tanggapan lawan bicaranya. Ekspresi wajahnya tergambarkan dengan keceriaan meskipun aku tidak tahu alasannya. Awalnya aku agak terkejut melihatnya disini, berpikir bahwa yang kulihat bukanlah dia. Tapi, aku tak pernah salah mengenali orang. Apalagi jika orang itu pernah mengukir kenangan.

Tak kusangka kebetulan seperti ini bisa terjadi. Aku melihatnya lagi secara langsung setelah sekian ingatan masa-masa SMA-ku mulai terkubur oleh kenangan baru yang kudapat dua tahun terakhir ini. Entah harus bersyukur atau sebaiknya aku mengumpat saja. Sebenarnya sama sekali tak ada niat untuk memikirkannya lagi.

Tanpa sadar menit kian menitpun terlewat. Dia baru saja berpindah tempat duduk mencari yang lebih lindung dari cahaya mentari. Namun, tak merubah arah mataku. Masih memerhatikannya dan berharap ia sadar akan keberadaanku. Tapi percuma. Bahkan sampai kereta datang dan berhenti di stasiun, saat para calon penumpang berdesakan masuk ke gerbong kereta dia tidak sadar juga bahwa aku sedari tadi mengantre tepat dibelakangnya. Kenapa tak menyapanya saja? Dengan begitu harapanku terwujud untuk bertemu pandang dengannya. Tapi, akankah ia mengingatku? Akankah ia membalas sapa dan tersenyum padaku?

Musik

Ada melodi disuatu malam yang panjang. Mungkin tak sepanjang dugaanmu, cukup untuk membuatku merasa lelah ketika sampai di rumah. Rumah.

Ada melodi disuatu malam yang panjang. Ada aku dan dia. Ada kami. Menumpah ruah cerita yang mungkin pernah tersampaikan lewat hati ke hati kita sendiri.

Ada melodi disuatu malam yang panjang. Asaku tak sejauh itu kawan. Tapi, aku tak cukup mengeluh dengan ini.

Asa. Apa yang kamu pikirkan tentang masa depan? Aku harap bahagia akan selalu kamu sisipkan di sana. Kawan. Beri aku rasa harap yang sama.

Aku tak ingin menggubah melodi yang kita ciptakan di suatu malam ini. Begitupun ketika aku sampai di rumahku. Rumahmu juga. Rumah untuk semua orang yang berusaha mencari jati diri.

Jati diri. Sepertinya aku mencoba merubah haluan. Katakan jika aku benar.

Kawan melodi ini tercipta dengan sendirinya. Dengan perbedaan yang ada. Maupun perbedaan yang dengan sengaja kita ciptakan.

Selasa, Pagi Ini

Ada banyak kesalahan yang telah kita perbuat. Ada banyak  nama yang menyebutkan kita. Terkadang melukai juga membuat kita terlukai. Meskipun bukan suatu kesengajaan, tetapi kita tak mengetahui seberapa kebal orang tersebut menerima luka.

Ayo. Kita kembali ke fase awal, dimana kita bisa memperbaiki segala kesalahan. Namun, bisakah kita memastikannya?

Jika Saja Kita Berbeda

Jika aku bersikap tidak seperti yang dulu, mungkin saja kamulah penyebab perubahanku

 

Maaf, aku tak bisa menjadi seperti maumu, karena aku akan tetap bertahan seperti ini

 

Aku adalah aku, kamu adalah kamu, kita berbeda

 

Jika perbedaan saja membuatmu menjauh, aku jadi bertanya-tanya, apakah kita ini bena-benar makhluk sosial?

 

Ayo, baca pikiranku, agar kamu tahu bahwa aku tak suka dengan sikap membeda-bedakanmu itu

 

Satu Nasihat yang Terlupa

Minggu, 8 Oktober 2017

Sebuah pertanyaan muncul begitu saja dalam alam imajinasiku. Pertanyaan yang sebelumnya juga pernah terlintas. Namun, kali ini berbeda. Pertanyaan itu bagai sebuah lecutan bagiku. Sejenak aku memikirkan hal lain, mungkinkah ini sebuah karma? Atau inikah pemberlakuan hukum aksi reaksi itu?

Pernahkah kalian memahami akan sebuah nasihat? Aku tidak tahu, tapi, bisa saja karena kecerobohanku dalam mengenali sebuah nasihat itu. Aku tak dapat, dan tak pernah mau mengerti. Berjalan sesuai prinsip, itulah yang aku pahami.

Jika saja aku berdosa karena tidak menurtinya, aku minta maaf. Tapi, apakah maaf itu berlaku untuknya? Apakah hatinya akan terobati karena ini?

Ini hanya omong kosong belaka jika kalian tidak memahaminya. Begitu pun aku. Tidak membenci adalah pilihanku. Tidak menuruti adalah keinginan jalan pikiranku. Aku hanya ingin berjalan sesuai dengan apa keadaanku. Sedangkan nasihat itu hanya akan menjadi beban yang sulit jika selalu kubawa.

Tapi, sejak hal itu benar-benar aku alami. Akupun menjadi risau. Aku takut jika penyesalanku ini sudah tak ada artinya lagi.

Awal?

This is the excerpt for your very first post.

Aku mengenalmu bukan karena keinginanku, melainkan karena kita masih terpaut dalam takdir-Nya

 

Takdir? Tidakkah kau ingat alasanmu selama ini. Hanya takdirlah yang dapat mengubah hidup kita

 

Jika aku ingin kembali, tolong jangan biarkan