Musik

Ada melodi disuatu malam yang panjang. Mungkin tak sepanjang dugaanmu, cukup untuk membuatku merasa lelah ketika sampai di rumah. Rumah.

Ada melodi disuatu malam yang panjang. Ada aku dan dia. Ada kami. Menumpah ruah cerita yang mungkin pernah tersampaikan lewat hati ke hati kita sendiri.

Ada melodi disuatu malam yang panjang. Asaku tak sejauh itu kawan. Tapi, aku tak cukup mengeluh dengan ini.

Asa. Apa yang kamu pikirkan tentang masa depan? Aku harap bahagia akan selalu kamu sisipkan di sana. Kawan. Beri aku rasa harap yang sama.

Aku tak ingin menggubah melodi yang kita ciptakan di suatu malam ini. Begitupun ketika aku sampai di rumahku. Rumahmu juga. Rumah untuk semua orang yang berusaha mencari jati diri.

Jati diri. Sepertinya aku mencoba merubah haluan. Katakan jika aku benar.

Kawan melodi ini tercipta dengan sendirinya. Dengan perbedaan yang ada. Maupun perbedaan yang dengan sengaja kita ciptakan.

Advertisements

Selasa, Pagi Ini

Ada banyak kesalahan yang telah kita perbuat. Ada banyak  nama yang menyebutkan kita. Terkadang melukai juga membuat kita terlukai. Meskipun bukan suatu kesengajaan, tetapi kita tak mengetahui seberapa kebal orang tersebut menerima luka.

Ayo. Kita kembali ke fase awal, dimana kita bisa memperbaiki segala kesalahan. Namun, bisakah kita memastikannya?

Jika Saja Kita Berbeda

Jika aku bersikap tidak seperti yang dulu, mungkin saja kamulah penyebab perubahanku

 

Maaf, aku tak bisa menjadi seperti maumu, karena aku akan tetap bertahan seperti ini

 

Aku adalah aku, kamu adalah kamu, kita berbeda

 

Jika perbedaan saja membuatmu menjauh, aku jadi bertanya-tanya, apakah kita ini bena-benar makhluk sosial?

 

Ayo, baca pikiranku, agar kamu tahu bahwa aku tak suka dengan sikap membeda-bedakanmu itu

 

Satu Nasihat yang Terlupa

Minggu, 8 Oktober 2017

Sebuah pertanyaan muncul begitu saja dalam alam imajinasiku. Pertanyaan yang sebelumnya juga pernah terlintas. Namun, kali ini berbeda. Pertanyaan itu bagai sebuah lecutan bagiku. Sejenak aku memikirkan hal lain, mungkinkah ini sebuah karma? Atau inikah pemberlakuan hukum aksi reaksi itu?

Pernahkah kalian memahami akan sebuah nasihat? Aku tidak tahu, tapi, bisa saja karena kecerobohanku dalam mengenali sebuah nasihat itu. Aku tak dapat, dan tak pernah mau mengerti. Berjalan sesuai prinsip, itulah yang aku pahami.

Jika saja aku berdosa karena tidak menurtinya, aku minta maaf. Tapi, apakah maaf itu berlaku untuknya? Apakah hatinya akan terobati karena ini?

Ini hanya omong kosong belaka jika kalian tidak memahaminya. Begitu pun aku. Tidak membenci adalah pilihanku. Tidak menuruti adalah keinginan jalan pikiranku. Aku hanya ingin berjalan sesuai dengan apa keadaanku. Sedangkan nasihat itu hanya akan menjadi beban yang sulit jika selalu kubawa.

Tapi, sejak hal itu benar-benar aku alami. Akupun menjadi risau. Aku takut jika penyesalanku ini sudah tak ada artinya lagi.

Awal?

This is the excerpt for your very first post.

Aku mengenalmu bukan karena keinginanku, melainkan karena kita masih terpaut dalam takdir-Nya

 

Takdir? Tidakkah kau ingat alasanmu selama ini. Hanya takdirlah yang dapat mengubah hidup kita

 

Jika aku ingin kembali, tolong jangan biarkan